2 comments

Portofolio Desain Grafis

















2 comments

Aku kotor!

Seperti yang dapat dilihat pada tampilan viewer blog saya pada sebelah kiri layar tampilan, viewer saya (bagi saya) sudah mencapai angka fantastis yaitu 13.000 sekian blablabla saya tidak hafal. Namun apakah Anda mengetahui dibalik angka besar ini, keyword apa yang paling sering digunakan untuk 'tersasar' di blog ini?
Silahkan simak printscreen berikut.



















282 orang mengetikan 'foto orang lagi diperkosa' di Google dan tanpa sengaja menemukan Blog ini.
Bagaimana menurut Anda?
Apakah sebegitu kotornya blog ini? Saya rasa iya. Aku kotor!
1 comment

Cover Album Operasi Plastik



Ini merupakan karya saya menyelesaikan cover album band indie asal Bogor yang lolos CD kompilasi Kick Fest 2013 lalu. Nama bandnya Operasi Plastik. Lagu yang mereka mainkan keras tapi terdengar enerjik dan bersenang-senang. Mungkin itulah mengapa saya terinspirasi menggambarkan sosok killjoy di cover. Semua dikerjakan langsung di pen tablet. Lama-lama mulai terbiasa dengan benda asing itu. Menyenangkan!
1 comment

Kuda Khatulistiwa

Kuda
Kenapa kuda?

Saya suka kuda. Bahkan daging kuda. Keberatan? Coba dulu, deh. Enak loh!

Ini tahun kuda, bung!
10 comments

Terpana Sebira

Bermula dari sebuah blog. Bahkan bukan blognya, melainkan bermula dari sebuah posting-an, hanya satu buah posting-an saja, kok. Siang menjelang sore di bis menuju Wonosobo mendadak heboh.

http://simplyindonesia.wordpress.com/2013/07/17/noordwachter-sang-penjaga-tua-dari-pulau-utara-yang-tak-terpetakan-2/

Link diatas adalah penyebab segala kehebohan yang terjadi di bis menuju Wonosobo. Bermula dari obrolan mengenai Pulau Karimunjawa, pembicaraan kami mulai melantur ke pulau-pulau lainnya. Ketidakfokusan obrolan ini memang selalu berujung rasa penasaran yang diikuti mobilitas tinggi berseluncur di dunia maya melalui telefon genggam. Satu hari tanpa membuka halaman web melancong di Indonesia rasanya memang tidak lengkap saja, maka dicarilah halaman web manapun yang dapat memenuhi hasrat. Nana mendadak heboh melihat layar telefon genggamnya. Mungkinkah ia baru saja merayakan selesai mengetik skripsi di telfon genggamnya, pikirku. Tidak, rupanya ia menyodorkan halaman web dari link di atas yang berisi posting-an mengenai sebuah pulau. Setengah teriak heboh kami membaca posting-anya hingga halaman bawah. Suara setengah teriak menyerupai lumba-lumba atraksi. Tulisan dan data yang disuguhkan sangat persuasif, hingga memaksa mengeluarkan air mata dan diturunkan dari bis (keduanya benar, namun secara kebetulan saja berbarengan karena memang sudah sampai tempat tujuan). Namun kepersuasifan tulisanya meninggalkan beberapa pertanyaan : 

  1. Apakah yang menulis benar-benar sudah pernah ke pulau yang ia ceritakan?
  2. Apakah disana bisa snorkeling?
  3. Mungkinkah nama penemu becak adalah Muhammad Becak?
Khusus pertanyaan pertama tercetus karena kesangsian tidak ada foto kehidupan di pulau tersebut yang diunggah di halaman blog. Hanya terdapat foto citra satelit pulau, mercusuar, dan seekor burung yang sepertinya diunduh dari Google. Justru pula dari pertanyaan-pertanyaan ini malah mempersuasifkan diri untuk kesana dan mengetahui sendiri jawaban-jawabanya. Dan ngomong-ngomong, nama pulau yang daritadi dibicarakan adalah...

Pulau Sebira




Pulau Sebira adalah pulau paling utara dari Kepulauan Seribu. Dengan kata lain, Pulau Sebira adalah batas paling utara dari Jakarta. Tak banyak yang mengetahaui fakta tersebut sebab yang terekam dalam peta sebagai pulau paling utara adalah Pulau Dua.

Kenapa? 

Baca sendiri di link di atas. Jangan manja, dek!

Sepulang dari perjalanan menantang Pulau Jawa yang saya lakukan dalam kurun waktu Juli-September tak lantas menghentikan perjalanan sebab dalam hitungan minggu sudah kembali berada di kendaraan menuju pelabuhan Kamal untuk berangkat ke pulau yang sudah membuat penasaran, Pulau Sebira. Pagi sekali dikala tak ada angkot yang dapat mengemudi lurus dibawah pengaruh minuman keras dan dikala tukang sayur belum dikerubungi ibu-ibu berdaster, kami, tim pelesir ke Pulau Sebira, berangkat menuju Stasiun Bogor. Sesampainya di...

... Sebentar. Untuk apa saya menceritakan bagaimana menuju Pulau Sebira? Biar kalian sendirilah yang mencari tahu rute ke Pulau Sebira! Dan postingan ini pun tidak menceritakan bagaimana ke Pulau Sebira, namun apa yang ada disana. Link diawal memberi tahu berbagai opsi bagaimana dan berapa perkiraan biaya ke Pulau Sebira, kok. Sedikit bocoran, kami ke Pulau Sebira TIDAK MENGHABISKAN LEBIH DARI Rp 100.000/orang, kok. Bahkan perjalanan kapal kami GRATIS. Nah, tugas Anda untuk mencari tahu sendiri, yah!


Putri yang mabuk laut
Mengendarai perahu like a boss
Ini kompas nyata, bukan apps kompas di telefon genggam
"Pak, nanti kalau lewat pom bensin berhenti yah pak mau pipis"
Bapak ini sudah khatam perairan Laut Jawa
Kedatangan kami disambut matahari terbenam

Perjalanan selama sebelas jam akhirnya tertempuh di laut utara Jawa dan tibalah di Pelabuhan Sebira pada malam hari selepas matahari terbenam. Pelabuhan disesaki kapal-kapal nelayan yang tengah parkir dan bersiap berangkat pagi hari menuju laut. Bak bazaar, kapal-kapal berjajar lengkap dengan lampu warna-warni yang menghiasi malam. Nelayan tak pernah jauh dari kapalnya. Asap mengepul tercampur aroma ikan laut sudah dibumbui tercium dari atas kapal adalah pertanda sebentar lagi para nelayan akan berkumpul untuk bersama-sama menyantap hidangan ikan laut segar dengan nasi yang masih panas. Sesekali kucing-kucing akan ikut menyantap ikan sisa yang diberi para nelayan. Terlintas dalam pikiranku bagaimana seekor kucing dapat sampai pulau yang jauh ini, tak mungkinlah ia berenang sejauh ini dari pelabuhan Muara Angke ke Sebira. Masyarakat setempat didominasi suku Bugis asli Labuan Bajo. Suku Bugis memang sudah sangat terkenal sebagai pelaut handal negeri ini, tak heran nenek moyangku seorang pelaut, bukan anggota Boyband. "Sekali pelaut, tetap pelaut" sudah menjadi motto yang mendarah daging bak buku tulis SIDU; sampul akan terus berganti dari foto Desi Ratnasari hingga Megazord, tapi motto yang menghiasi bagian bawah halamanya tak pernah berubah 'Experiance is the Best Teacher'.

Kami dibuat terpenganga oleh keramahan masyarakat setempat. Ibu Haji mempersilahkan kami masuk rumahnya yang begitu megah untuk ukuran pulau yang cukup 10 menit sudah khatam dikelilingi. Kami disuguhkan dengan ikan bawal bakar yang tak lain berasal dari tangkapan nelayan setempat. Ikan bawal sedang 'panen' ketika kami datang, sebuah rezeki tersendiri bagi kami dapat mencicipi panen ikan masyarakat setempat. Kami menginap di rumah Bapak Haji Nurdin, seorang nelayan ramah yang paham betul tentang alam laut. Beliaulah Wikipedia berjalan kami mengingat sinyal telefon genggam hanya didapatkan oleh satu provider dalam negeri saja di pulau ini.


Kami tak membuang banyak waktu, di pagi hari setelah subuh kami berburu panorama alam matahari terbit. Momen keindahanya memang tak lebih dari 2 menit namun justru itulah sensasinya. Dan benar saja, pulau ini menyuguhkan pemandangan matahari terbit yang menakjubkan nan elok. Gradasi hingga warna-warna kontras di langit yang ditawarkan disambut teriakan histeris kami yang jarang mendapatkan pemandangan demikian di kota. 







Sebelum berangkat ke Sebira kami sudah menyiapkan alat snorkeling dari Bogor jadi tidak perlu menyewa milik warga. Ohya, bahkan rasanya memang tidak ada penyewaan mengingat Sebira tidak dimaksimalkan untuk pariwisata. Berjam-jam kami habiskan bersnorkeling bersama ikan-ikan beraneka warna dan ukuran. Beningnya air bahkan mengizinkan kami mengintip keindahan alam laut dengan ikan-ikan cantiknya dari permukaan tanpa harus menenggelamkan kepala. Berhati-hatilah dengan plankton berukuran besar dan (biasanya) berwarna biru, mereka sangat menyengat. Bibir saya dengan santai disengatnya meninggalkan perih bibir terasa mencium pantat badak listrik. Ada juga kepuasan dan kebanggaan tersendiri dapat berenang bersama seekor ikan hiu walaupun berukuran kecil. Entah minuman keras apa yang ia tenggak, ikan hiu bercorak tersebut seperti sedikit 'teler' mengizinkan kami memainkanya bahkan 'sok tahu' mengajarkanya bagaimana cara berenang karena ia terus berdiam. Kami memang sangat culangung 'mengajarkan ikan cara berenang' padahal kami kepayahan berenang sendiri.







Pulau Sebira memiliki mercusuar tua peninggalan Belanda dari tahun 1869. Seorang penjaga yang ramah bertugas menjaganya tak sungkan membukakan gembok mercusuar untuk dijelajahi kami. Anak tangganya luar biasa memberikan trauma bagi yang memiliki ketakutan ketinggian, tidak hanya karena ketinggianya tapi juga karena kondisi anak tangganya yang sudah rapuh berkarat. Beberapa anak tangga bahkan sudah sama sekali tidak diperuntukan untuk diinjak orang dewasa. Mbok, panggilan tenar Putri, anggota tim pelesir ke Sebira rupanya tidak salah dipanggil Mbok karena selama naik ke puncak mercusuar hingga turun kembali, ia tidak berhenti mengadu ketakutan bak ibu-ibu beranak 5. Beruntung saya sudah tidak takut ketinggian sehingga menikmati ketinggian mercusuar justru terasa menantang. Di puncak mercusuar, mata Anda dapat 'mengelilingi' pulau dalam hitungan detik saja! Pulau Sebira dapat dibuktikan bahwa tidak luas dengan melihat sekeliling dari puncak mercusuar. Namun kecil-kecil cabe Madagascar, jangan kira karena tidak luas maka pulau ini tidak indah. Sebaliknya lagi-lagi takjub bak melihat pulau dari citra satelit tapi lebih sedap dipandang karena secara live.

























Putri yang takut ketinggian
Putri yang takut ketinggian, dipaksa naik mercusuar, mual, dan berpikiran bahwa dengan jongkok dapat membantu tidak takut ketinggian.
Jangan puas hanya sekali bersnorkel di pulau ini. Lakukanlah kegiatan bersnorkeling jilid 2 di sore hari bersama masyarkat setempat. Mereka sangat terbuka dan antusias melihat 'orang luar pulau' dengan peralatan snorkeling. Anak-anak setempat takkan segan diajak berenang bersama. Saya 'dikadalin' anak-anak Bugis yang pandai berenang dengan ditarik kesana kemari. Pemuda setempat pun akan ikut berenang sambil memamerkan atraksi kepala dibawah air laut dan kaki menyembul keluar. Untung saja menggunakan celana.


Keptiting hardcore

Penutupan snorkeling yang melelahkan tak lain adalah panorama matahari tenggelam. Tips terbaik menikmatinya adalah dari atas mercusuar.



Malam hari kami berbincang sambil menyantap hidangan lezat dari laut. Ditengah perbincangan kami dengan Pak Haji Nurdin, ia menceritakan bagaimana warga biasanya mengambil kayu dari luar pulau. Mereka akan menyalakan mesin kapalnya dan menerobos ombak menuju sebuah pulau yang berada di utara. Butuh waktu 5-7 jam menuju pulau tersebut.

Tahukah Anda pulau apa yang berada di utara Pulau Sebira?
Pulau Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Saya tergetar mendengarkan ucapanya.

Kami saling melemparkan pandangan "Pak, kalau mau ngambil-ngambil kayu, ajak-ajak yah!"
Perjalanan ini baru menemui awalnya, kawan!

Kredits fotografi oleh Nana Rodiana dan Putri 'Mbok' Monica Sari
Berita perjalanan ke Pulau Sebira juga ditulis di laman berita Koran Kampus IPB http://www.korpusipb.com/2013/09/sebira-ketika-hitam-berganti-biru.html oleh Nana Rodiana selaku reporter.