No comment yet

Kisah Cinta Sang Penyamun

"Telfon saya dong, Ton. Hp saya hilang, nih." ujar teman saya. "Berapa nomernya?" balas saya sambil mengeluarkan hp pintar saya yang kini sudah buruk rupa.
"0813..", "Pake simp*ti?" potong saya dengan cepat dan seperti tak percaya.
"Memang kenapa, Ton?"
"..."

Saya melihat wajahnya, cukup cantik untuk memalingkan mata beberapa lelaki normal. Menerawang badanya dari ujung kaki hingga kepala, berulang-ulang. Saya sangat menikmatinya (troll laugh). Sayang sekali, pikir saya. Cantik-cantik dan masih muda namun menggunakan simp*ti sebagai nomer pribadi. Saya selalu berpendapat bahwa orang yang menggunakan simp*ti kalau bukan bapak-bapak, orang bodoh, atau Irlangga. Iyah, Irlangga.

Apakah Irlangga?

Iyah, bukan 'siapakah' namun 'apakah'. Saya sudah memeriksa KBBI untuk memastikan bahwa penggunaan kata 'apakah' yang paling tepat untuk Irlangga. Sudah saya tanyakan pula pada dosen pembimbing saya, beliau berkata saya tak akan berdosa bahkan beliau siap menanggung dosa yang saya perbuat. Dalam kasus Irlangga ini, terdapat keistimewaan dimana bila berpapasan dengan hewan ternak Anda diperbolehkan bertanya "Itu siapa?" sembari menunjuk hewan ternak yang melintas namun bila berpapasan dengan Irlangga Anda diharuskan bertanya "Itu apa?" sembari menunjuk Irlangga yang melintas dan membaca syahadat berkali-kali.

Irlangga, atau biasa dipanggil Dilan, nama panggilan yang tak dapat ditemukan di akte kelahiran dan kartu ujian miliknya. Mungkin hingga kini hanya Tuhan dan guru agamanya yang tahu mengapa ia memiliki nama panggilan Dilan. Saya sendiri sangsi apakah ia tahu mengapa nama panggilanya Dilan. Dalam beberapa kesempatan ia suka menuliskan namanya "Dilan Sastrowardoyo" atau "Bob Dilan". Tak lama habis itu Dian Sastro hamil dan Bob Dylan melakukan usaha bunuh diri. Ia adalah definisi nyata dari kata "Penyamun". Ia pernah dikatakan tampan oleh Ibunya, walaupun hingga kini masih menjadi teka-teki bersama apakah beliau bersungguh-sungguh atau sedang dalam keadaan mabuk. Sekali lagi hanya Tuhan dan guru agamanya yang tahu.
Irlangga pernah ke suatu Mal Ciputra yang berada di Cikarang dan bertanya "Pak, ini mal Ciputra bukan?" kepada seorang petugas keamanan yang berada persis dibawah spanduk besar bertuliskan "Selamat Datang di Mal Ciputra". Kami pernah duduk berdua di lantai sambil dilihat oleh setiap orang yang melewati kami, situasi yang sangat canggung. Selidik punya selidik Irlangga mengenakan t-shirt bertuliskan 'BEST COUPLE OF THE MONTH'. Disaat itu saya merasa sebagai seorang penyuka sesama jenis yang sangat berbahagia. Gitar menjadi teman terdekat bahkan pacarnya. Irlangga adalah pribadi yang akan horny setelah memegang gitar. Itulah mengapa hingga kini ia masih jomblo dan berbulu dada.

Ini adalah penampakan nyata Irlangga.


Bukan, perhatikan kera bermuka nafsu dibelakang para wanita cantik didepan.


Iya, yang dilingkari merah adalah Irlangga. Sebuah jomblo abadi (atau yang pernah teman saya celoteh, "Perjaka Akhir Masa") yang sudah berusaha maksimal mendapatkan perhatian dari seorang betina, maksud saya wanita.

Dan di suatu pagi yang absurd Irlangga mengirimkan sebuah pesan yang takkan pernah saya sangka akan ada orang di dunia ini mengirimkanya, apalagi kepada saya yang selama ini dikenal kejam dan suka mencuri timun.

Irlangga : Ton gw abis nulis kisah cinta gua selama hidup, dapatnya satu kertas polio wkwkwkwkwk
Saya     : wkwkwkwk gua masukin blog gua yah!
Irlangga : Iyah, Ton!

Sebuah pernyataan bodoh, ditanggapi dengan bodoh, dan dijawab dengan lebih bodoh. Ini bukan mitos atau dongeng anak kecil, tapi Irlangga secara tidak langsung mengizinkan untuk dipermalukan di dunia maya! Maka selepas solat saya berdoa memohon ampun dan terlindung dari siksa penyamun berbulu dada tebal.

Ini adalah cerita nyata dari Irlangga yang ia relakan kepada saya untuk di edit dan dimuat diblog saya. Mungkin ia bertujuan menarik perhatian seorang wanita ataupun chimpanse betina dewasa. Hanya Tuhan dan guru agamanya yang tahu.

                                            -------------------------------------------------------

Kisah Cinta Anak Muda

Kisah cinta anak muda. Ya, inilah judul yang cocok untuk menggambarkan kisah saya dan juga untuk menjadi sebuah kenangan di masa depan (?). Semoga cerita ini bermanfaat buat cewe, cowo, ataupun chimpanse yang lagi pada jatuh cinta, agar tidak mengalami kesalahan seperti yang saya alami.

Pertama saya ingin memperkenalkan diri, nama saya adalah Dilan, saya hanya orang biasa dengan penampilan tidak menarik, acak-acakan, jarang mensleting celana teman sebangku, memiliki bulu dada semampai, dengan gaya rambut yang tidak jelas (saya jarang keramas juga). Tidak ada hal yg bisa dibanggakan buat ditunjukkan ke orang lain, kecuali foto ibu saya di dompet. Dan juga saya sering terlambat berpikir, contoh : ketika teman-teman bercanda saya selalu tertawa belakangan. Seperti patrick di film spongebob, kebiasaan saya adalah bilang “bener juga lu..” seperti Mukhlis di film si Temon. Itulah mengapa saya sering dipanggil Mukhlis, selain karena muka saya yang kayak iblis (Mukhlis, Muka Iblis).

Jadi ceritanya begini, sob.

 Tragedi ini terjadi ketika saya berkuliah di semester satu s/d sekarang.

Saya datang berkuliah dengan semangat di semester 1 dengan harapan menggapai cita-cita menjadi musisi handal, gitaris shredder, serta virtuoso musik. Padahal saya berkuliah di jurusan akutansi.
Nah, di smester 1 sampe sekarang saya merasa kayaknya ada cewe yang ngeliatin saya melulu (GR gila !!!), membuat saya resah dan gelisah, geli-geli basah.
Tidak terasa waktu berjalan cepat dan saya sudah sampai di smester 3, pikiran saya semakin dewasa dan matang, bulu dada saya sudah sampai ke bokong dan hidup ini seperti meruncing pada 2 tujuan yaitu benar dan salah. (cihuyyy !)
Ternyata oh ternyata. Benar adanya, wanita itu selalu melirik saya, awalnya saya ngga mau GR, lucu sekali pikir saya. Saya hanya orang biasa, tidak banyak gaya, berbicara pun tidak sering, muka pas pasan, dengan modal yang hanya iman, takwa, dan bulu dada. Intinya saya tahu diri, lah. Jadi, saya pikir wanita itu cuma kelilipan debu dan dia kebetulan sedang melihat saya dengan tatapan itu, tatapan maut seorang wanita. tahu kan lu semua ! yang bikin hati ini cenat cenut.. #NP : Smash – I Heart You
Seringkali saya berpapasan dengannya dan saya selalu menyapanya, pada awalnya saya benar-benar tidak menyadari ternyata benih benih cinta sudah bersemai di hatinya (lebay). Pikiran saya waktu itu sangat jauh dari cinta, apalagi mencari pasangan, sungguh tidak terpikirkan. Yang saya pikirkan hanya hal-hal konyol seperti hari minggu saya mau nonton doraemon sama shinchan, kenapa Botani Square disingkat Boker, kenapa kalo cewe cantik lewat waktu serasa berhenti terus wangi shampoonya kecium, dan hal tidak berguna lainnya.
Begitulah.. Saya selalu sibuk dengan pikiran bodoh sendiri sampai terkadang tidak memikirkan orang lain, sifat yang kurang baik,  don’t try this at home!
Hingga di smester 3 si wanita menjadi bingung dengan sifat saya, namun.. wanita ini setia menunggu dan tidak pernah takut untuk menunggu. Yang ia takutkan hanyalah tukang ojek tanpa celana. Sampai satu waktu saya minta nomer HP wanita tersebut dan menghubunginya, memberi isyarat kalau lampu sudah hijau, “Akhirnya..” pikir si wanita.
Namun 1 hal yang “sangat tidak terduga” terjadi, waktu itu saya mengalami krisis kepribadian yang cukup parah. Entah mengapa Tuhan menunjukkan wajah sebenarnya dari teman-teman saya, hal ini membuat saya merasa seperti dikhianati karena saya selalu mempercayai teman-teman saya. Ya saya kehilangan beberapa teman bukan dalam artian meninggal jasadnya, namun kehilangan Ia dalam pikiran saya dan saya tidak habis pikir, pikiran saya terkuras habis dan saya selalu merasa sendiri waktu itu. Saya menyadari mungkin ALLAH ingin menunjukkan kalau waktu itu jalan yang saya tempuh adalah jalan yang salah. (Hati-hati sob, hal yang salah terkadang terasa benar karena lingkungan, jangan pernah takut kalo lu bener.. liat hadist Nabi sama Qur’an aja !)

Si wanita mungkin menyadari hal ini dan melihat saya selalu menyendiri membuat ia kecewa. Ia pikir saya tidak bisa bergaul ataupun digauli selama 5 bulan, parah kan. Saya terlalu takut. Takut kalau semua orang itu sama saja, semua orang seperti berkepribadian dua (HYPOCRITE), suka menusuk dari belakang, selalu mentertawakan kelemahan orang lain, dan suka menyiksa ternak. Padahal kita kan teman.
Pikiran saya waktu itu terlalu negatif dan mungkin si wanita tidak menyangka kalau saya ternyata orang yang payah.. berbeda dari yang dia pikirkan; macho, gaul, dan suka menggauli ternak tetangga . Saya pun tahu diri, kalau saya mengambil hati wanita itu sekarang hanya akan menjadi musibah dan kalau saya isyaratkan dia untuk menunggu lebih lama lagi, saya tidak tega.
Dan akhirnya.. (tarik napas dalam-dalam) Saya melepasnya, dengan kata-kata yang menyakitkan, “Gua homo” eh, maksud saya “Lu kira selama ini gua deketin lu ya ?”. Abisnya saya sudah terlalu bingung dan negatif ketika itu... Wanita yg sudah menunggu selama 1 tahun lebih itu saya lepas, ibarat “pasir pantai yang tersapu ombak” semua hal dan cita-cita wanita itu saya hapus. Saya memang bodoh. Perasaan si wanita tentu sangat hancur dan saya lah yang salah dari awal. Seharusnya saya tidak kelamaan membuat dia menunggu. Dan seharusnya saya tidak salah bergaul. Mungkin inilah cinta ketika datang di waktu yang tak tepat..”
Lanjut gan !!
Dua minggu kemudian, saya melihat si wanita bersama pria lain dan dengar-dengar mereka berpacaran dan sudah dikaruniai tiga buah anak (bohong, pacaranya aja yang benaran), saya ikhlas dan mengucapkan “alhamdulilah”... hidupnya lebih baik tanpa saya, dan saya pun perlahan mulai positif lagi.
Ceritanya belom tamat sampe sini..
Ternyata si wanita tidak mengerti mengapa saya melepasnya begitu saja (ya iyalah emang saya ngga bilang sama dia).. Dan mungkin dia sudah terlanjur cinta dan masih cinta sama saya walaupun sudah punya pacar baru.
Singkat cerita, saya bertemu dengan “teman si wanita”, tentu saya menyapanya.. “Hai cewe! Ikut abang dangdutan, yuk!” (Bohong lagi, saya hanya berani menyapanya “Hai”)
Lalu terjadi ereksi, maaf maksud saya reaksi yang tidak saya duga, si teman wanita itu melihat mata saya lalu memalingkan wajahnya ke samping (kayak di adegan-adegan sinetron yang @L4Y) lalu ia meleng dan masuk jurang. IPKnya berkurang jadi 1,5. (amin)
Saya langsung berpikir pasti ini ada hubungannya sama si kampret cantik itu.. Saya benar2 kesal di “acuh” kan begitu..
Besoknya saya langsung mengajak si wanita ngobrol, begini dialognya...
Saya :” bla... bla.. bla.. (menjelaskan kejadian)”
Si cewe :”ngga.. bla.. bla.. bla.. jangan ngerasa kayak gitu.. dia (si teman) orangnya baik...”


Lalu saya bertanya tentang perihal cintanya kepada saya,,
Saya :” lu suka ya ama gua ?”
Yang jelas-jelas setiap wanita di dunia akan menjawab “NGGA LAH !!! GR AMAT LU TOT !!!)
Si cewe :”ngga.. kan sekarang gw udah punya si I**** (orang yang saya kenal juga), gw pdkt ama dia aja udah 11 bulan.. bla.. bla.. bla..”
Idiot binti bodohnya yang ada di dalam pikiran saya waktu itu adalah “Tuh kan bener dia ga suka ama gw, waktu itu matanya kelilipan doang. Mana mungkin dia suka penyamun.”
Trus si wanita menjelaskan kalau dia suka ama cowo, dia butuh waktu lama untuk menyukai lelaki. Terdengar sangat lesbi. Abis gw ngobrol sama dia, BESOKNYA. Ga sampe “satu BULAN” bahkan satu milimeter, dia pacaran sama si I**** dan ga sampe “1 MINGGU” dia punya pacar baru lagi! Yahweh!
Bukannya menjelek-jelekkan prinsip dia.. tapi gimana yah.. saya jadi heran dengan sikapnya yang seperti itu.. #NP : Peterpan – ada apa denganmu
Pas putus juga terjadi hal yang mengenaskan buat si I****, temen dia meninggal..  “Inna lilahi wa inna ilaihi roji’un”. T_T
Kembali ke cerita...
Padahal pas ngobrol pun saya sudah bilang maaf kalau punya salah tapi dia bilang “ngapain sih minta maaf kayak lagi lebaran aja..” Dan saya juga berpesan, “Jangan suka bohong, 1000 kebohongan tidak akan memunculkan 1 pun kebenaran” (Sayang kan kalau cewek cantik suka bohong. Apalagi berbohong suka SM*SH padahal playlistnya berisi semua lagu band penyuka sesama jenis itu.)
Dan pas punya pacar baru si do’i mengupdate facebooknya lagi in relationship (kiw!), lalu dia meng update status tiap dua menit sekali “I love you *censored*, you’re my only one, dll” #NP : Superglad - Alay
Mungkin pelampiasan karena dia kesal sama saya. Agar saya menyesal tidak mendapatkannya.. dan parahnya saya cuek-cuek aja, yang saya pikirkan si I****, kasian si I**** kayak maenan aja digituin, udah ngarep-ngarep dapet cewe cantik eh ternyata cuman kayak pelarian doang. Yah gapapa juga sih dibanding meng-add seorang wanita di facebook dan ternyata dia sudah in a relationship dengan mutual friends kita.
Sebenarnya saya orangnya cuek, bulu dada saja saya panjangkan tanpa menghiraukan akan tersangkut resleting celana saya, tapi karena saya menyadari “betapa inginnya dia melupakan saya dan begitu sulitnya dia melupakan saya”, saya jadi ga tega. Sekali lagi saya ingin bilang maaf (pas lebaran nanti), andai saja bisa saya jelaskan waktu itu, susah juga sih karena dia nya bohong melulu (si wanita : ngga kok gw jujur, lu sensi amat sama gw kyknya).. Dan sekarang semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi dubur.
Sampai sekarang si wanita tersebut dan teman-temanya selalu berusaha menutup-nutupi “sesuatu tentang perasaan”, lama-lama saya enek, sampai kapan mereka semua mau berpura-pura dan menutup nutupi, bisakah sebuah kebohongan memunculkan cinta sejati?

To be continued.....

(Toni : trus perasaan lu sama cewe itu gimana sekarang, lan?)
(Dilan : gua sayang sih sama dia.. cuman dia udah berubah, dia punya jenggot. males gua, “waktu itu” gw cuman bingung dikit jadi fatal begini)
(Toni : lu sebenarnya sayang sama siapa sih, tot? sama si Ria*i, sama yang ini, apa ama Gatot?  semua aja lu sayang, tot !)
(Dilan : ama lu juga gua sayang ton...)
(Toni : ...*kecupkening*)
Kejadian berikutnya di sensor karena terlalu sadis untuk di tunjukkan ke pembaca sekalian..



Semoga kisah ini menginspirasi teman-teman yang lagi jatuh cinta, intinya :
1.    Kalau PDKT jangan lama2
2.    Apapun yang terjadi dalam hidup lu (dikhianatin, diputusin, dll) “nikmatin aja”, toh ga enaknya cuman sebentar trus lu jadi dewasa..
3.    Kalau emang gak suka ama seseorang jangan di terima, tolak aja... “jangan diberi harapan dan amplop kosong”
4.    Jangan jadi orang yang terlambat menyadari kalau orang lain jatuh cinta sama lu
5.    Bukannya gw ngajarin buat cari pacar, pacaran itu “dosa” dan ga ada hukumnya.. tapi jangan sia sia kan perasaan orang lain sama lu.
6.    Gaul lah sebelum digauli!
7.    Rock Forever guys !!!!


                                               --------------------------------------------------


Demikian kisah seekor kera berbulu dada bernama Irlangga dalam mencari apalah itu namanya (cinta .Red). Cerita tadi merupakan kisahnya dan dapat saya yakinkan bahwa itu bukan kisah saya! Saya berani joged tidak senonoh di jalan raya Bara bila memang itu cerita karangan saya.
Tak banyak yang bisa saya komentari mengenai cinta, karena saya hanya seorang mahasiswa ber-IPK kurang dari tiga, berusia dua puluh tahun namun belum pernah nonton konser, masih suka berhayal jadi Wolverine, memuja Ultraman sebagai "Pahlawan Jepang yang gak banyak Bacot", suka menertawakan teman yang habis cukur rambut, dan selalu dalam keadaan standby ketawa.

Apa pun itu, Irlangga menunjukkan ia sudah menjadi kera dewasa yang butuh cinta. Mari, ajak saudara lelaki Anda ataupun ibu Anda untuk mengisi kekosongan cinta Irlangga!

Sesungguhnya ia hanya seorang manusia yang kurang kasih sayang, kok.
1 comment

Old School Me

Masih sulit melepaskan pandangan dari sebuah jam tangan baru yang dibelikan orangtua saya ketika mereka pergi berumrah gratis (iyah, sungguh mereka pasangan paling mujur sedunia). Jam tersebut berwarna hitam, sama seperti semua jam tangan saya sebelum-sebelumnya. Yang membedakan adalah jam tangan ini berat dibanding seluruh jam tangan yang pernah saya miliki sebelumnya. "Ini pasti mahal", pikirku dengan sedikit tertawa bengis ala Smeagol di film Lords of The Rings. Sebab tak pernah saya memiliki jam tangan yang terlihat 'semewah' ini. Jam tangan terakhir yang saya beli adalah sebuah jam tangan KW China bermerek Casio yang pada akhirnya mati tersiram air walaupun bertuliskan 'Water Resistant'. Dasar, kalian ras penghuni warnet dan kios handphone.

Namun saya membongkar tas dan menemukan jam tangan saya ketika SD yang masih digunakan hingga kini. Jam tangan itu sudah beberapa minggu tak bisa dikenakan lantaran patah pengaitnya. Walaupun putaran pengatur jamnya sudah bengkok, tali jamnya sudah bukan yang asli, dan bau jam tangannya pun sudah seperti ketiak berambut seorang pemuda yang tengah puber namun jam tangan tersebut sangat saya sayangi. Terbukti saya rela menebusnya hujan-hujanan dengan hanya mengenakan jaket dan celana pendek diatas pantat lantaran  uang saya untuk mengganti baterainya tidak cukup.

Momen dimana saya memegang jam tangan baru dengan yang lama membuat saya bernostalga mengingat zaman SD ketika saya pertama kali mengenakan jam tangan lama milik saya. Ketika itu saya kelas empat SD, bercelana pendek berwarna merah dan jarang saya seleting, kurus, tinggi, dan masih beranggapan bahwa Santa Claus datang melalui cerobong asap. Lubang tali yang saya pakai adalah lubang paling dekat dengan jamnya karena tangan saya yang kurus. Tangan saya yang kurus bisa saja memungkinkan saya membantu peternak sapi di seluruh tanah air melakukan inseminasi buatan terhadap sapi-sapi betinanya dengan menawarkan jasa memasukan satu tangan penuh ke alat reproduksi sapi-sapinya tanpa terjadi pemberontakan. Kelak bila itu terjadi saya akan mengganti nama FB saya menjadi 'Abdurrahman Fathony SiPenaburBenihUnggul'.

Setelah dipikirkan dengan lebih jeli, ternyata sebuah jam tangan hanyalah contoh kecil mengenai hal old school yang di kemudian hari berganti. Beruntung saya memiliki daya ingat yang tajam, terstruktur , dan tervisualisasi dengan rapih dan sudah terlatih pada kejuaraan 'Primata Pintar 2012'. Saya ingat bagaimana saya sangat mencintai sepasang sepatu adidas yang saya kenakan dari kelas empat hingga kelas enam dan pada akhirnya harus saya relakan karena hormon pertumbuhan kaki dan rambut pantat yang mengganas. Namun pada akhirnya kini saya memiliki sepatu yang cukup di kaki dan tetap dengan bau khas klan Syaukat. Saya ingat betul Motorola bodoh yang saya beli dengan uang sendiri hasil lomba harus raib oleh penghipnotis ulung yang menghipnotis saya beserta tiga teman saya yang bodoh. Pada akhirnya saya sempat memiliki handphone canggih yang bila ia menjadi seorang mahasiswa mungkin IPK-nya dapat menembus angka 3,5. Namun karena kecerobohan saya dewasa ini, handphone pintar tersebut harus berganti menjadi handphone dual sim dengan keunggulan pada senter. Saya ingat motor pertama saya yang merupakan sebuah motor Honda Revo yang saya anggap memiliki mesin yang berasal dari sebuah mesin jahit 100cc lantaran suara gemuruh yang dihasilkanya. Saya ingat bagaimana saya pernah marah diatas kuda besi tersebut karena kue yang sedianya akan saya berikan kepada ibu saya di hari ulang tahunya bucat pejret dihadapan saya karena masalah mesin. Namun pada akhirnya motor yang sempat saya namai Toruc Macto itu tergantikan oleh sebuah motor cukup kencang yang menurut kakak saya adalah sebuah 'motor bencong' karena berpenampilan ditengah-tengah motor bebek dan motor sport. Saya ingat dan saya ingat.

Tidak, saya tidak menyesali hari-hari old school saya dan seluruh aspek-aspek yang mewarnainya. Menginginkan untuk menjalaninya kembali pun rasanya berlebihan. Saya cukup untuk bisa mengingatnya dan menertawakanya, seperti ingatan bahwa dulu saya suka chatting di MiRC dengan nickname 'cO_gNteNg_9auL' ketika SMP dengan mengaku saya bersekolah di SMA Negeri 5 Bogor yang kelak memang menjadi SMA saya dan saya dibuat merasa gaul oleh nickname tersebut. Saya pun masih suka tertawa bagaimana saya masih menggunakan teknik surat-suratan untuk mendekati seseorang padahal di zaman itu handphone sudah bergelimpangan dimana-mana. 

Jam yang membawa penuh kenangan itu kembali saya simpan di tas dengan pengharapan ketika dilihat kembali masih terdapat kenangan-kenangan sisa bersamanya. Baru saja bernostalgia ria, beberapa menit kemudian terfikir dalam kepala ini untuk menjualnya di Kaskus.

Iyah, inilah hidup, kawan. Old school rocks 
No comment yet

Saya, Sang Penulis Keledai

Mendadak saya terbangun, membuka laman blog saya, dan mengetik. Perbuatan yang bodoh mengingat besok pagi saya akan menghadapi ujian. Namun setelah diingat kembali, posting-an saya ternyata mayoritas dibuat ketika sedang musim ujian. Pantas IPK saya masih tertahan di angka dua. Apalagi IPK saya pernah menyentuh angka fantastis berupa tiga angka yang sama, yaitu angka dua. Oh, sungguh, pengalaman itu lebih menakutkan dibanding pengalaman disunat di klinik 24 jam tanpa mengenakan celana.

Yah, IPK. Itulah momok menakutkan bagi mahasiswa. Teringat bagaimana orangtua saya menelfon saya dari Jepang, dimana ketika itu mereka tengah mengunjungi kakak saya yang menjadi TKW disana. Dengan sungguh perhatian, mereka menanyakan seluruh kabar saya di rumah. Apakah saya sudah mengunci pintu, mematikan kompor, mandi, memberi nafkah istri tetangga, hingga pada akhirnya ibu saya menanyakan suatu hal yang sangat tabu. Pertanyaan ini walaupun tidak disebutkan dalam kitab suci namun kelak akan ditanyakan malaikat pencatat amal setelah pertanyaan apa agamamu. Pertanyaan itu :

BERAPA IP KAMU?


Seketika saya menirukan suara frekuensi walkie talkie seolah ada yang rusak dengan jaringan telfon. Perlahan saya menutup telfon dengan penuh hina. Sedangkan ibu saya disebrang sanah tengah bingung. Maafkan saya Telkomsel, saya tak bermaksud memfitnah Anda.

Seperti dejavu, kini saya kembali ditinggal sendiri di rumah kali ini orangtua saya menunaikan umrah. Dan lagi, saya membuat postingan bodoh ini dalam keadaan besok ujian.


Bodoh
6 comments

Pintu Neraka (Sempat) Terbuka Vol. II


2 comments

Kami Manusia Purba, Kami Mahasiswa

Ia berjalan sedikit malu-malu dengan membawa piring berisikan makanan pada pesta perkawinan itu. Terlihat dalam piringnya sebuah gunungan besar dari nasi yang bila ditumpahkan sebanding dengan tiga porsi nasi. Pakaianya cukup rapih tak terlihat seperti kuli bangunan, kemeja batik yang sedikit lusuh mungkin karena sering dipakai. Lalu tanpa sengaja ia tersandung kursi dihadapanya. Tumpahlah piring yang dibawanya dengan penuh kehati-hatian.Terungkap sudah isi dari porsi makan kulinya, dibalik gunungan nasinya tersembunyi tiga buah ikan, dua buah paha ayam, dan rolade yang ditumpuk.

                                                  *********************************

Itulah mahasiswa. Itulah saya. Itulah teman-teman saya. Tapi cerita diatas (untungnya) bukan saya. Bukan pula teman saya, padahal saya berharap itu teman saya karena bila memang benar itu teman saya takkan segan diri ini untuk selebrasi menertawakanya sambil membuka baju dihadapan tamu undangan perkawinan dan memperlihatkan perut buncit saya yang sebelumnya sudah saya tuliskan 'pecundang' dengan penuh hina. Bersamaan dengan selebrasi saya, beberapa security akan menembak saya dengan peluru bius seperti yang sering diperlihatkan dalam film dokumenter binatang National Geographic mengenai penanganan badak di afrika. Hanya sedikit penggambaran saja mengenai mahasiswa. Kami mahasiswa, sebenarnya merupakan tahap sebelum menjadi manusia modern seperti yang pernah dipaparkan oleh Charles Darwin.

Tidak sedikit yang mencaci maki Darwin karena teorinya yang dianggap gila,  namun saya sendiri cukup sependapat walaupun saya tetap tidak setuju dengan tahapan awal, yaitu manusia berasal dari kera. Tapi menurut pemaparan bodoh saya, saya berpendapat manusia berevolusi dari manusia, menjadi manusia purba (mahasiswa), dan kembali lagi menjadi manusia.


Iyah, inilah revolusi manusia yang sesungguhnya. Ketika semua manusia belum menginjak jenjang mahasiswa, semuanya adalah manusia modern murni tanpa evolusi. Namun ketika memasuki jenjang mahasiswa semuanya akan berubah.
'Mahasiswa' terlihat bagaikan sebuah kesalahan dalam kosakata bahasa Indonesia. Menyandang 'maha' seperti menyandang kesalahan yang harus ditanggung. Bukanya buruk namun sedikit membingungkan mengingat secara ilmu pun, mahasiswa tidaklah lebih dari seorang dosen tapi bukan dosenlah yang menyandang 'gelar' itu. Tetapi kami, mahasiswa. Secara fisik pun kami kalah mentereng dengan siswa SMA masa kini yang selalu tampil to the max tidak lusuh seperti para mahasiswa penghuni tetap gerbong kereta pergi-pulang atau mahasiswa 'tukang kiloan' yang setia membawa buku-buku tebal dengan bobot masing-masing 5kg per buku.

Lalu kenapa, mahasiswa menyandang 'maha' yang seharusnya hanya disandang Tuhan?

Mungkin jawabanya adalah karena hanya mahasiswalah yang mengalami proses revolusi dari seorang manusia purba yang barbarian menjadi seorang manusia modern yang berakal. Selama menjadi mahasiswa memang tidak mudah karena menjadi mahasiswa tidaklah hanya sekedar belajar dari buku, tapi belajar tentang hidup.
Saat turun ke desa menghadapi petani, seorang mahasiswa harus belajar dan berbicara sebagai seorang petani yang memiliki ilmu lebih untuk dibagi bukan sebagai orang yang lebih pintar secara teori dan ingin menerapkan apa yang ada di buku. Menjadi mahasiswa memang penuh penderitaan secara jiwa dan raga. Saya sendiri sudah mengalami sedikit penyiksaan sebagai mahasiswa secara jiwa ketika dipaksa mendengarkan dosen paruh baya berbicara di depan kelas sedangkan beliau lupa membagikan absen yang notabenenya lebih penting dibanding kuliah tertentu atau pun siksaan secara raga berupa nasi raskin yang harus saya santap dengan tempe selama berhari-hari karena hanya itu yang sanggup saya beli.

Kami sebagai mahasiswa pun masih dalam proses menjadi orang yang besar kelak. Pemahaman kami memang masih dangkal, tapi inilah proses.

Kosa kata yang kami pahami pun tak secemerlang orang sukses. Memaknai kata 'gesek' pun kami berbeda dengan yang dipahami seorang pengusaha.


Yup, kami memang manusia purba berjas almamater. Namun kelak kami akan menjadi manusia modern lengkap dengan toga dan tidak lagi mengkonsumsi beras raskin penuh kerikil di tiap suapnya.
Namun kapan lagi Anda hidup penuh derita dan barbarian kalau bukan sebagai mahasiswa? Karena saya yakin lulus dari kuliah tidak akan sia-sia dan kami akan sukses dengan cara kami masing-masing. Jadi berbanggalah sebagai mahasiswa.

Mungkin inilah pengertian 'maha' bagi saya. Sebuah proses menjadi sempurna.

(Setelah saya baca ulang posting-an ini, saya baru sadar saya sedikit bijak. Sepertinya saya memang perlu ditembak bius binatang. Ada yang tidak beres dengan kejiwaan saya yang mendadak 'waras')
No comment yet

Pintu Neraka (Sempat) Terbuka

Hari senin lalu saya sempat membuka pintu neraka selama dua jam penuh. Ini sedikit ilustrasi saya yang diperagakan oleh saya mengenai kenangan membuka pintu neraka.


1 comment

Cara Saya Menghadapi Dunia

Vokalis Kasabian pernah berkata bahwa zaman sekarang sudah menjadi zaman "cengeng". Sudah tidak ada lagi orang yang mendengarkan lagu dengan khyusu', diawali perkenalan singkat satu lagu di radio lalu Anda akan bertanya-tanya "Siapa yang nyanyi?" dan Anda akan membeli kaset sang penyanyi di toko kaset. Untuk saya pribadi, saya pun mengangguk membenarkan perkataanya karena saya sendiri melewati fase itu. Saya memiliki beberapa koleksi kaset rock yang masih saya dengarkan hingga sekarang walaupun sekarang sudah dalam bentuk mp3 di hp. Sempat saya tetap bertahan dengan metode kaset hingga awal SMA, namun akhirnya harus kalah juga oleh format mp3. Itulah kemajuan zaman.
Saya memang bukan orang yang sadar kemajuan zaman. Terbukti saya masih suka terpukau dengan efek komputer sinetron laga di Indosiar. Menyenangkan melihat siluman buaya yang tengah menjadi bulan-bulanan 'kamehameha'nya seorang Ustad lalu disaat melemah sang siluman akan berkata "Gawat, saya harus kembali ke khayangan", lalu dia akan menghilang meninggalkan asap. Konyol memang namun suatu hari nanti bila saya memiliki seorang anak dan ia bertanya darimana ia berasal, dengan yakin saya akan menjawab "Kamu berasal dari khayangan".
Selain itu saya pun bukanlah orang yang banyak mengalami perubahan. Saya masih menyukai tokoh-tokoh komik Marvel klasik, lagu-lagu di hp saya mayoritas berasal dari tahun 90'an hingga awal milenium, saya masih menggunakan kamera berfilem, dan saya masih senang merakit Tamiya. Pada awalnya saya tidak terlalu menghiraukan kestagnanan saya mengikuti perkembangan zaman, namun zaman pun dengan durjananya membangunkan saya. Bagaikan kisah dalam Kitab suci tentang beberapa pemuda dan seekor anjing yang terbangun setelah tidur panjang dalam gua, saya merasakan kisah yang sama, namun sebagai anjingnya. Iya, anjingnya. Seekor anjing mungkin tidak akan menghiraukan perbedaan zaman yang telah dilaluinya, yang ia tahu hanyalah tiang langganan pipisnya sudah dipipisi anjing-anjing jantan lainya selama ia tertidur. Walaupun pada kenyataanya saya tidak memiliki tiang langganan pipis tapi hidup saya tak jauh berbeda dengan binatang melata tersebut.
Tak bisa dipungkiri betapa gondoknya bila barang yang menurut Anda ekslusif, mendadak menjadi barang pasaran yang terkesan murahan. Teringat betapa saya mengagumi bentuk unik BlackBerry ketika meluncurkan produknya di awal tahun 2000 dan kini saya hanya menelan ludah pernah mengagumi gadget yang kini menjadi icon kegaulan pemuda-pemudi. Saya tak rela digauli gadget tersebut. Lalu masih teringat betapa saya mengagumi baju bola atau yang sekarang dikenal dengan jersey oleh khalayak. Namun perlahan tapi pasti, hampir seluruh orang yang mengaku pendukung klub sepak bola mancanegara tapi mainnya futsal, memiliki jersey KW thailand klub kesayangannya. Lebih hebatnya nyaris di setiap mal atau pusat keramaian lainnya ada saja orang yang jalan menggunakan baju bola. Di zaman saya masih koleksi baju bola secara rutin, menggunakannya selain untuk main bola saja sudah berat karena baju bola steriotipenya adalah Ucup, tokoh dalam serial 'Bajaj Bajuri' yang berpenampilan na'as dan selalu menggunakan baju bola hingga episode lebaran sekalipun.
Cukup terkesan bawel memang postingan ini. Bukan saya juga yang mengatur hidup Anda untuk bagaimana menyikapi perubahan zaman yang cepat ini. Namun cukup disadari saja, saya atau pun kami peduli. Perubahan zaman ini terjadi dengan cepat dan durjana, bukan berarti tidak mengikuti perubahan maka Anda dibilang orang yang kuper. Saya yakin siapa pun yang mengikuti seluruh perubahan zaman dengan mentah-mentah sebenarnya punya potensi lebih dari sekedar hanya menjadi pengikut zaman. Yup, saya peduli. Seekor anjing yang merasa tiang langganan pipisnya sudah penuh saja akan mencari tiang baru. Maka jadilah anjing dan mari bersama-sama kita cari tiang baru!